MOLA HIDATIDOSA

Mola hidatidosa adalah kehamilan yang abnormal di mana hampir seluruh villi chorialis mengalami degenerasi hidropik. Istilah awam : “hamil anggur”.

Penyebab

Terjadi degenerasi hidropik dari jaringan trofoblas pada usia kehamilan muda. Kadar B-hCG meningkat sangat tinggi, menyebabkan timbul gejala-gejala kehamilan muda yang berlebihan.

Faktor Risiko

  1. Usia kurang dari 20 tahun
  2. Sosioekonomi kurang
  3. Jumlah paritas tinggi
  4. Riwayat kehamilan mola sebelumnya

Patofisiologi

  • B-hCG meningkat – aktifitas ovarium meningkat (ovarium kistik) – estrogen tinggi menimbulkan efek hipertiroidisme dari aktifitas B-hCG yang tinggi.
  • Teori Acosta-Sison : defisiensi protein.
  • Sitogenetika : mola hidatidosa komplet berasal dari genom paternal (genotipe 46 xx sering, 46 xy jarang, tapi 46 xx nya berasal dari reduplikasi haploid sperma dan tanpa kromosom dari ovum). Mola parsial mempunyai 69 kromosom terdiri dari kromosom 2 haploid paternal dan 1 haploid maternal (triploid, 69 xxx atau 69 xxy dari 1 haploid ovum dan lainnya reduplikasi haploid paternal dari satu sperma atau fertilisasi dispermia).

Gejala dan Tanda

Perdarahan : karena tekanan mola kepada dinding uteri, dan gejala kehamilan muda berlebih : hiperemesis, hipertiroid, preeklampsia, anemia.
Penatalaksanaan

Perhatikan sindroma yang mengancam fungsi vital (depresi napas, hipertiroid / tirotoksikosis, dsb), siap resusitasi bila keadaan umum pasien buruk.

  • Evakuasi jaringan mola : dilatasi-kuretase dengan hisap (suction) dan kuret tajam. Suction dapat mengeluarkan sebagian besar massa mola, sisanya dibersihkan dengan kuret. Dapat juga dilakukan induksi. Pada waktu evakuasi, diberikan oksitosin untuk merangsang kontraksi uterus dan mencegah refluks cairan mola ke arah tuba.
  • Pada wanita yang tidak mengharapkan anak lagi dapat dianjurkan histerektomi.

Kontrol terhadap progresifitas menjadi penyakit trofoblas ganas (koriokarsinoma):

  • Profilaksis terhadap keganasan dengan sitostatika, terutama pada kelompok risiko keganasan tinggi.
  • Pemeriksaan ginekologik dan B-hCG kuantitatif rutin tiap 2 minggu pasca evakuasi sampai remisi, sesudah remisi, tetap teratur tiap 3 bulan sampai selama 1 tahun.
  • Foto toraks pada awal terapi, diulang bila kadar B-hCG menetap atau meningkat.
  • Kontrasepsi hormonal aman selama 1 tahun pasca remisi. Sebaiknya menggunakan preparat progesteron oral selama 2 tahun.
  • Penyuluhan pada pasien akan kemungkinan keganasan
Jenis Mola

Dibagi atas:

  1. Mola hidatidosa klasik / komplet : tidak terdapat janin atau bagian tubuh janin. Ciri histologik, ada gambaran proliferasi trofoblas, degenerasi hidropik villi chorialis dan berkurangnya vaskularisasi / kapiler dalam stroma. Sering disertai pembentukan kista lutein (25-30%).
  2. Mola hidatidosa parsial / inkomplet : terdapat janin atau bagian tubuh janin. Ciri histologik, terdapat jaringan plasenta yang sehat dan fetus. Gambaran edema villi hanya fokal dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lapisan sinsitiotrofoblas. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama.
Pos ini dipublikasikan di Detail Penyakit. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s