HIV / AIDS

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh me-nyebabkan orang dengan HIV/AIDS (Odha) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit.

Penyebab

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak system kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang sangat berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang system kekebalannya normal.

Faktor Risiko

Kelompok resiko tinggi tertular AIDS adalah :

  • Kelompok yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan maupun yang melakukan hubungan seksual secara tidak normal, seperti : wanita/pria pekerja seks komersil dan pelanggannya; mucikari; homoseksual (laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki); biseksual (laki-laki atau perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya maupun dengan lawan jenisnya); wanita muda pemijat tertentu di panti pijat; wanita/pria yang sering berganti-ganti pasangan seksual.
  • Kelompok penyalah guna narkotik suntik yang menggunakan alat suntik tidak steril secara bersama/bergantian.

Patofisiologi

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4”.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut “sel T-4” atau disebut juga “sel CD-4”.

Secara langsung (transfusi darah, produk darah atau transplantasi organ tubuh yang tercemar HIV) l Lewat alat-alat (jarum suntik, peralatan dokter, jarum tato, tindik, dll) yang telah tercemar HIV karena baru dipakai oleh orang yang terinfeksi HIV dan tidak disterilisasi terlebih dahulu Apakah seorang ibu pengidap HIV selalu akan menularkan HIV pada janinnya? Tidak, bila seorang perempuan yang telah terinfeksi HIV hamil, kemungkinan akan menularkan HIV kepada janinnya hanya 30%.

Gejala dan Tanda

Gejala-gejala yang sering timbul pada penderita AIDS : rasa lelah berkepanjangan, sering demam disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas, berat badan menurun secara menyolok, sesak nafas dan batuk berkepanjangan, bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kaposi), diare lebih dari 1 bulan tanpa sebab yang jelas, pembesaran kelenjar getah bening (di leher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab yang jelas, bercak putih atau luka di mulut, dan sebagainya.

Pencegahan

AIDS tidak menular karena : berjabatan tangan; makanan dan minuman; berciuman pipi; gigitan serangga atau nyamuk; hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak melakukan hubungan seksual); bersama-sama berenang di kolam renang; penderita AIDS bersin atau batuk di depan kita; menggunakan WC/kamar mandi yang sama; bersentuhan biasa dengan penderita.

HIV atau virus AIDS terdapat pada semua cairan tubuh penderita, tetapi yang terbukti berperan dalam penularan AIDS yang sangat efektif adalah air mani, cairan vagina, dan darah. Penularan AIDS terutama terjadi melalui : tranfusi darah yang tercemar HIV; jarum suntikan atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, alat cukur) yang bekas dipakai oleh orang yang mengidap HIV; hubungan seksual (homo maupun heteroseksual) dengan seseorang yang mengidap HIV; ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut kepada janin atau bayinya (perinatal).

Cara mencegahnya yang paling baik adalah menghindari hubungan seksual di luar ikatan pernikahan atau zinah. Bila sulit dihindari, lakukanlah dengan pemakaian kondom yang benar.

Penatalaksanaan
  1. Anjuran menghindari tempat-tempat yang ramai dan serangan penyakit infeksi, tidak melakukan hubungan badan dan menghindari kehamilan, serta tidak memberi donor darah, sperma atau organ tubuh.
  2. Memeriksa darah untuk antibodi HIV.
  3. Mengobati gejala-gejala infeksi bila ada.
  4. Memberi resep obat anti virus untuk memperlambat laju infeksi.
Pos ini dipublikasikan di Detail Penyakit. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s